Rabu, 25 Februari 2015

DINAMIKA BERPAKAIAN

ARTIKEL
Minimnya Nilai Kesopanan
Menipisnya morah para masyarakat dan jelas-jelas dapat kita lihat bersama bahwa tidak adanya lagi kesopanan baik di bidang bahasa maupun cara berpakaian di tingkat remaja maupun di tingkat dewasa dengan ini dapat kita membukktikan bawah dalam tatacara berpakaian terutama di tingkat dewasa ini yang mana banyak para orang tua tidak memiliki rasa malu di muka umum menampak-nampakkan sebahagian aurat’nya yang salah satunya melepaskan rambutnya lalu mondar mandir di depan orang banyak tidak mempedulikan sapa orang yang melihat ia yang begitu melepaskan sebagian auratnya.
Konon lagi di dalam kalangan remaja yang tidak mempedulikan siapa saja lalu ia dengan lantangnya dengan rasa percaya diri memakai pakaian celana setengah potong baik ia di depan orang tuanya sendiri maupn di dalam lingkungan sekitar dan bahkan pakaian seperti ini ia lebih bangga dari pada pakaian-pakaian yang menenutup auratnya yang paling anehnya lagi bahwa menampakan sebagian dari auratnya sendiri ia merasakan itu sebagian dari seni dan bahkan apaabila ia tidak melakukan itu ia bagaikan merasa kekurangan kesempurnaan dalam berpakaian.
Inilah yang menjadi salah satu dampak modernisasi yang menyerap sampai ke tingkat dewasa kini yang bukan lain lagi yang menjadi sasaran utamanya para kalangan remaja, yang akan mempengaruhi etika dan moral sehingga membawa kita dalam kehanyutan nilai-nilai kesopanan di dalam masyrakat yang saat ini
Yang harus dapat kita pikirkan bagaimana cara menyikapi masalah yang seperti ini karna apabila ini terus dapat di biarkan maka ini sangat diragukan dalam perkembangan masyakat yang lebih menghancurkan masa depan terutama dalam generasi-generasi selanjutnya.
Kalaulah kita melihat ke belakang seperti apa cara berpakaian yang sebelumnya di dalam para orang-orang dewasa ini salah satunya  seperti orang tua dahulunya ia hanya  berani melepaskan kerudung maupun menampakan rambutnya hanya di dalam rumah saja. Itupun melihat situasi dan kondisi maupun kiadaan di dalam rumah itu sendiri. Dan pakaiannya juga sangat jarang di temukan yang berpakaian lejing meskipun ada lejing dahulunya itu hanya dapat di gunakan pakaian di dalam sarung saja.
Perubahan ini sangatlah  bersangkut paud dengan  perilaku-perilaku yang kurang memuaskan yang sehingga kurangnya keharmonisan di dalam suatu kekeluargaan itu sendiri yang menjadi bahan contoh di dalam perilaku-perilaku yang kurang memuaskan seperti adap seorang anak terhadap orangtua begitu juga adap sesama anggota keluarga.
Apalagi dampak teknologi dalam penyalah gunaan yang mengakibatkan banyak nya perilaku-perilaku yang tidak di inginkan terjadi di masyarakat yang madani begitu jaga yang saat ini dapat kita rasakan yang kadang kala membuat kita kuranya keperhatian terhadap anggota keluarga yang pada akhirnya terjerumus dalam lingkungan yang kurang baik.
Padahal apabila kita melihat dalam perkembangan seorang anak bahwa pendidikan sangat berperan dalam perkembangan seorang anak maupun angggota keluarga seperti pendididkan informal. Bahwa pendidikan di dalam rumah tangga maupun kluarga itu sangat mempengaruhi moral maupun karakter anggota keluarga. Lalu apabila sikap seorang pemimpin dalam rumah tangga itu jauh dari nilai-nilai moral maupun etika maka tidaklah jauh sikap didalam generasinya sendiri seperti kata dalam pepatah tidaklah jauh kelapa  jatuh dari batangnya.

Maka sesuai dengan penjelasan di atas orang tua maupun kepala rumah tangga sangatlah di tuntun memberikan peran yang baik terhadap anggota keluarga sesuai denga tata cara dalam masyrakat madani dalam menghadapi perkembangan di era globalisasi ini agar tentunya para generasi-generasi kita kedepannya mampu menyongsong persainga-persaingan secara intelektual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar